CORONGSUKABUMI.com – Setiap jam istirahat, sebuah sudut sederhana di SMP Negeri 5 Surade, Kabupaten Sukabumi, tak pernah sepi. Bukan untuk bermain atau berkumpul ramai, melainkan menjadi tempat siswa duduk, berbicara, dan didengarkan. Dari ruang kecil inilah, sekolah menanamkan cara baru membangun karakter: tanpa hukuman, tanpa tekanan.
Ruang tersebut dikenal sebagai Pojok Curhat, sebuah program yang memberi kesempatan bagi siswa menyampaikan keresahan, konflik pertemanan, hingga persoalan pribadi yang sulit mereka ungkapkan di kelas. Guru hadir bukan sebagai penegak disiplin, melainkan sebagai pendamping yang siap mendengar.
Kepala SMPN 5 Surade, Sari Nursanti, menuturkan bahwa banyak perilaku negatif siswa berawal dari emosi yang tidak tersalurkan.
βAnak-anak sekarang menghadapi tekanan yang besar, terutama dari arus informasi dan media sosial. Kalau tidak ada tempat bercerita, emosi itu bisa meledak ke arah yang salah,β ujar Sari, Rabu (14/1/2026).
Ia menegaskan, pendekatan sekolah tidak lagi semata berfokus pada nilai akademik. Menurutnya, kesehatan emosional menjadi fondasi utama pembentukan karakter siswa.
βPrestasi itu penting, tapi tidak akan bertahan jika anak kehilangan keseimbangan emosinya,β katanya.
Program Pojok Curhat terhubung dengan kebiasaan harian siswa, seperti Digital Detox dan pengisian Jurnal 7 Kebiasaan Anak Hebat Indonesia (7 KAI). Melalui pendekatan ini, sekolah dapat memantau pola perilaku siswa secara lebih utuh, termasuk saat berada di rumah.
Sekolah juga melibatkan orang tua sebagai mitra. Melalui kegiatan parenting, orang tua diajak memahami tantangan anak di era digital serta pentingnya komunikasi di rumah.
βBanyak masalah anak justru muncul karena komunikasi tidak berjalan. Kalau rumah dan sekolah sejalan, anak akan merasa lebih aman,β jelas Sari.
Hasilnya mulai terlihat. Selama tiga tahun terakhir, SMPN 5 Surade tercatat bebas dari kasus tawuran pelajar, sebuah capaian yang lahir dari pendekatan persuasif dan konsisten.
Bagi Sari, keberhasilan tersebut bukan soal kebanggaan institusi, melainkan tentang masa depan anak-anak.
βYang paling penting, anak-anak pulang ke rumah dengan selamat dan tumbuh menjadi pribadi yang baik,β tuturnya.
Selain itu, sekolah juga berkomitmen tidak membebani orang tua secara ekonomi. Seluruh kegiatan dilaksanakan tanpa pungutan, bahkan beberapa fasilitas disediakan secara gratis.
Pendekatan yang mengedepankan empati dan kolaborasi ini menjadikan Pojok Curhat lebih dari sekadar program sekolah. Ia menjadi jaring pengaman emosional, sekaligus bukti bahwa mendengarkan sering kali lebih efektif daripada menghukum.
Sumber Jubirtvnews.com:Β SMP di Surade Sukabumi Ini Cegah Perilaku Negatif Siswa Tanpa Hukuman, Begini Caranya










