CORONGSUKABUMI.com โ Musim kemarau sering dibarengi dengan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia. Selain menghanguskan vegetasi dan mengurangi kualitas lingkungan, karhutla juga membawa ancaman lain yang tidak kalah serius, yakni paparan asap yang dapat berdampak pada kesehatan masyarakat.
Asap hasil kebakaran mengandung partikel halus, gas, dan berbagai zat yang dapat masuk ke saluran pernapasan. Kelompok seperti balita, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit asma atau gangguan paru menjadi pihak yang paling rentan mengalami dampaknya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan masyarakat agar membatasi paparan asap ketika kualitas udara memburuk.
Gangguan Pernapasan Jadi Keluhan yang Paling Sering Muncul
Salah satu dampak paling umum akibat asap karhutla adalah gangguan pada saluran pernapasan.
Gejala yang sering muncul antara lain:
โ Batuk
โ Tenggorokan terasa sakit
โ Sesak napas
โ Napas berbunyi
โ Kambuhnya asma.
Partikel halus berukuran kecil dapat masuk lebih dalam ke paru-paru sehingga meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
Mata Bisa Perih dan Merah
Paparan asap juga dapat mengiritasi mata.
Beberapa keluhan yang sering dirasakan meliputi:
โ Mata merah
โ Terasa perih
โ Berair
โ Sensasi seperti ada benda asing di mata.
Jika iritasi tidak kunjung membaik atau penglihatan terganggu, sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Hidung dan Tenggorokan Terasa Tidak Nyaman
Asap kebakaran dapat menyebabkan iritasi pada hidung dan tenggorokan sehingga muncul keluhan seperti:
โ Hidung tersumbat
โ Bersin
โ Tenggorokan kering
โ Suara menjadi serak.
Kondisi ini biasanya lebih mudah terjadi ketika seseorang berada di luar ruangan dalam waktu lama.
Risiko Lebih Besar bagi Kelompok Rentan
Tidak semua orang mengalami dampak yang sama.
Kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih meliputi:
โ Balita
โ Anak-anak
โ Lansia
โ Ibu hamil
โ Penderita asma
โ Penderita penyakit paru kronis
โ Penderita penyakit jantung.
Pada kelompok tersebut, paparan asap dapat memperburuk kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya.
Apa yang Harus Dilakukan Saat Udara Berasap?
WHO menyarankan beberapa langkah untuk mengurangi paparan asap, di antaranya kurangi aktivitas di luar ruangan, tutup pintu dan jendela ketika asap cukup pekat, gunakan masker yang mampu menyaring partikel halus, seperti masker KN95 atau N95 jika harus keluar rumah, perbanyak minum air putih, dan segera berobat jika mengalami sesak napas atau gejala yang semakin berat.
Jangan Anggap Sepele Asap Karhutla
Meski sering dianggap hanya menyebabkan mata perih atau batuk ringan, paparan asap karhutla dapat berdampak lebih serius jika berlangsung terus-menerus, terutama bagi kelompok rentan. Karena itu, mengikuti informasi kualitas udara dan mengurangi paparan asap menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan selama musim kemarau.
sumber: berbagai sumber

