CORONGSUKABUMI.com โ Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi El Niรฑo kuat yang diperkirakan terjadi sepanjang 2026. Fenomena iklim tersebut berpotensi memperparah kondisi musim kemarau, meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, hingga mengganggu sektor pertanian, kesehatan, dan ketahanan pangan.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan hasil pemantauan terbaru menunjukkan peluang terjadinya El Niรฑo kategori kuat mencapai 98 persen. Kondisi ini diperkirakan akan menurunkan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia, terutama daerah yang berada di selatan garis khatulistiwa saat puncak musim kemarau.
โFenomena El Niรฑo merupakan fenomena iklim global yang memengaruhi distribusi curah hujan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Namun perlu dipahami bahwa El Niรฑo dan musim kemarau adalah dua hal yang berbeda. Musim kemarau merupakan siklus tahunan, sedangkan El Niรฑo terjadi secara periodik dan dapat memperkuat kondisi kering ketika berlangsung bersamaan dengan musim kemarau,โ ujar Faisal dikutip dari laman BMKG, Selasa (14/7/2026).
Ia menjelaskan El Niรฑo diperkirakan berlangsung selama sembilan hingga 12 bulan. Meski demikian, kondisi tersebut tidak berarti Indonesia akan mengalami musim kemarau sepanjang periode itu.
โYang perlu kita waspadai bukan lamanya El Niรฑo, tetapi ketika fenomena ini bertepatan dengan musim kemarau. Pada periode itulah curah hujan menjadi lebih sedikit dibandingkan kondisi normal sehingga berbagai sektor perlu meningkatkan kesiapsiagaan,โ jelasnya.
BMKG memprakirakan wilayah yang berpotensi mengalami dampak paling besar meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, hingga Papua bagian selatan. Pada periode Juli hingga Oktober 2026, curah hujan di kawasan tersebut diprediksi berada di bawah kondisi normal.
Selain meningkatkan risiko kekeringan, El Niรฑo juga diperkirakan memperbesar potensi kebakaran hutan dan lahan, menurunkan kualitas udara akibat meningkatnya konsentrasi polutan, serta memicu gangguan kesehatan masyarakat seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan penyakit akibat suhu panas.
Di sektor pertanian, BMKG mengingatkan adanya ancaman terhadap fase pertumbuhan tanaman, penurunan produktivitas, hingga meningkatnya risiko puso akibat defisit air. Karena itu, pemerintah daerah didorong melakukan penyesuaian pola tanam, meningkatkan efisiensi pengelolaan irigasi, serta memanfaatkan informasi iklim sebagai dasar pengambilan keputusan.
โKesiapsiagaan harus dilakukan secara lintas sektor. Risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, kualitas udara, hingga kesehatan masyarakat perlu diantisipasi sejak dini melalui koordinasi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan,โ katanya.
Faisal menambahkan Indonesia memiliki 699 Zona Musim (ZOM) dengan karakteristik iklim yang berbeda-beda. Karena itu, strategi mitigasi dan adaptasi harus disesuaikan dengan kondisi di masing-masing daerah.
โSetiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda. Kami mengimbau pemerintah daerah untuk memanfaatkan informasi yang disediakan BMKG dan berkoordinasi dengan Unit Pelaksana Teknis BMKG di wilayah masing-masing agar kebijakan yang diambil benar-benar sesuai dengan kondisi lokal,โ ujarnya.
BMKG juga mengeluarkan sejumlah rekomendasi mitigasi untuk menghadapi dampak El Niรฑo. Langkah tersebut meliputi peningkatan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan di wilayah rawan, pengendalian emisi kendaraan di kawasan perkotaan, penguatan transportasi publik, hingga pembatasan aktivitas luar ruangan saat kualitas udara memburuk.
Pada sektor kesehatan, pemerintah daerah diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi kenaikan kasus ISPA maupun penyakit akibat suhu panas ekstrem, seperti heatstroke.
Selain itu, BMKG menekankan pentingnya memasukkan aspek risiko iklim dalam perencanaan ekonomi dan ketahanan pangan. Kemarau yang lebih panjang dinilai berpotensi menurunkan produktivitas pertanian serta memengaruhi stabilitas harga pangan dan inflasi daerah.
โKita harus mempertimbangkan aspek climate risk dalam perencanaan ekonomi dan investasi. Dengan mempertimbangkan risiko iklim secara lebih baik, produktivitas sektor pertanian dan stabilitas ekonomi dapat lebih terjaga,โ ungkapnya.
Di sektor energi, pengelolaan waduk dan sumber daya air juga perlu dioptimalkan dengan memanfaatkan prediksi iklim agar pasokan air untuk pembangkit listrik, irigasi, dan kebutuhan masyarakat tetap terjaga selama musim kemarau.
Menurut Faisal, berkurangnya volume tampungan air saat El Niรฑo berpotensi memengaruhi produksi listrik tenaga air. Oleh sebab itu, penguatan cadangan air melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta percepatan diversifikasi sumber energi menjadi langkah yang perlu dipersiapkan.
Menutup keterangannya, Faisal menegaskan BMKG akan terus memantau perkembangan dinamika atmosfer dan iklim serta menyampaikan informasi dan peringatan dini sebagai dasar pengambilan keputusan bagi pemerintah maupun masyarakat.
โSaya yakin, dengan koordinasi lintas sektor yang kuat, akan membuat kita bangsa Indonesia jauh lebih tangguh dan siap dalam menghadapi fenomena iklim ini,โ pungkasnya.
BMKG berharap penguatan informasi iklim serta koordinasi antarsektor dapat meminimalkan dampak El Niรฑo terhadap masyarakat, menjaga ketahanan pangan, sekaligus mempertahankan stabilitas ekonomi dan pembangunan daerah.
Sumber Jubirtvnews.com:ย Waspada El Nino Kuat 2026, BMKG Ungkap Sejumlah Risiko yang Perlu Diantisipasi Masyarakat

