CORONGSUKABUMI.com – Selama 15 tahun, Ajan (45), warga Kampung Cikawung RT 04/02, Desa Babakan Panjang, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, menjalani hidup yang jauh dari layak, terkurung di kamar sempit rumahnya sendiri. Perempuan itu baru dibebaskan pada Selasa (26/8/2025) setelah kondisi memprihatinkannya dilaporkan ke pemerintah setempat.
Kasus ini mulai mencuat usai masyarakat melapor, dipicu oleh pemberitaan serupa yang sebelumnya viral di daerah lain. Ketika petugas sosial dan pihak desa menyelidiki, mereka menemukan Ajan dalam kondisi terkunci di sebuah ruangan kecil oleh keluarganya sendiri. Alasan pengurungan, menurut keluarga, adalah karena Ajan mengalami gangguan jiwa dan sering bertindak agresif.
“Selama saya menjadi relawan, ini baru pertama kali menemukan warga yang dikurung sampai 15 tahun. Setelah mendapat laporan dari pendamping PKH, kami tindak lanjuti bersama pemerintah desa, PKM Nagrak, dan meminta bantuan Kemensos melalui Sentra Palamarta,”
kata Arum, Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Kecamatan Nagrak.
Riwayat kejiwaan Ajan sudah terdeteksi sejak ia masih remaja. Ia pernah mencoba berobat ke tabib tradisional di Jampang, bahkan sempat menikah dengan sang tabib. Namun, pernikahan itu kandas. Ia kemudian menikah lagi dengan pria asal Blitar, tapi kembali berakhir dengan perceraian.
Setelah sempat bekerja di Jakarta, pada tahun 2010 Ajan pulang ke kampung halaman. Di situlah kondisi jiwanya kembali memburuk, dan sejak itu keluarganya mengambil keputusan untuk mengurungnya.
“Setelah sempat bekerja di Jakarta, pada sekitar tahun 2010, Ajan pulang lagi ke Sukabumi, lalu kondisi kejiwaannya kambuh kembali. Sejak itulah dia dikurung oleh keluarganya,”
jelas Arum.
Ajan dikenal pendiam, namun kerap melampiaskan emosi secara fisik kepada orang di sekitarnya. Ia pernah menarik rambut saudaranya dan melakukan kekerasan terhadap ibunya sendiri. Situasi itu membuat keluarga merasa langkah pengurungan adalah satu-satunya cara menjaga keselamatan mereka.
“Keluarganya terdiri dari kakak-kakaknya yang semuanya janda. Mereka juga terbentur biaya dan jarak untuk membawa Ajan berobat ke Puskesmas atau rumah sakit. Motor tidak punya, ongkos ojek pun cukup berat untuk mereka. Karena itu, akhirnya kondisi ini bertahan bertahun-tahun,”
ungkap Arum.
Perubahan baru terjadi saat keluarga Ajan mulai membuka diri dan meminta bantuan ke Puskesmas. Namun saat dicek, Ajan belum memiliki jaminan kesehatan, yang menjadi penghambat penanganan lebih lanjut.