Beranda / Daerah / Kebakaran Lahan Meningkat, Sukabumi Hadapi Ancaman Serius di Puncak Musim Kemarau

Kebakaran Lahan Meningkat, Sukabumi Hadapi Ancaman Serius di Puncak Musim Kemarau

CORONGSUKABUMI.com – Lonjakan kasus kebakaran lahan mulai terjadi di Kabupaten Sukabumi seiring memasuki puncak musim kemarau 2026. Di tengah meningkatnya risiko kebakaran, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kabupaten Sukabumi masih dihadapkan pada keterbatasan jumlah posko, armada, hingga peralatan pendukung untuk menjangkau titik api di wilayah yang luas.

Berdasarkan Pemutakhiran Prediksi Musim Kemarau 2026 yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Juni 2026, sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau lebih awal. BMKG memperkirakan puncak musim kemarau berlangsung pada Juli hingga September 2026, dengan sebagian wilayah Pulau Jawa mulai memasuki puncaknya sejak Juli.

Kondisi tersebut meningkatkan potensi kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan sehingga pemerintah daerah diminta memperkuat langkah mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau.

Di Kabupaten Sukabumi, tren peningkatan kebakaran lahan mulai terlihat. Data Dinas Damkar Kabupaten Sukabumi mencatat, sejak Januari hingga 16 Juli 2026 telah terjadi 14 kasus kebakaran lahan. Dari jumlah tersebut, delapan kejadian terjadi sepanjang Juli, menjadikan bulan ini sebagai periode dengan angka kebakaran lahan tertinggi sepanjang tahun.

Baca Juga :  Demi Ciptakan 7 Pesona Pariwisata, Pedagang Geyser Cipanas Cisolok Sukabumi Rela Direlokasi

Peristiwa kebakaran tersebar di Kecamatan Palabuhanratu sebanyak tiga kejadian, Cibadak dan Cikakak masing-masing dua kejadian, serta masing-masing satu kejadian di Kecamatan Nyalindung, Kalapanunggal, Simpenan, Gunungguruh, Cikembar, Cicantayan, dan Parungkuda.

Berdasarkan hasil pendataan, sebanyak 12 kejadian dipicu aktivitas pembakaran lahan, sedangkan masing-masing satu kejadian disebabkan petasan dan puntung rokok.

Kepala Bidang Pemadam Dinas Damkar Kabupaten Sukabumi, Erwin Ahmad, mengatakan suhu udara yang meningkat saat musim kemarau memang berpengaruh terhadap cepatnya api menyebar. Namun, menurutnya penyebab utama kebakaran tetap berasal dari faktor manusia.

“Kalau kami analisa, dampak panas ekstrem hanya sekitar 20 persen. Selebihnya lebih banyak akibat human error, seperti pembakaran lahan yang ditinggalkan sehingga api merambat dan meluas,” ujarnya.

Erwin menjelaskan, selama Juli ini kebakaran lahan mendominasi sekitar 60 persen dari seluruh kejadian kebakaran yang ditangani Damkar. Sementara itu, kebakaran bangunan menyumbang sekitar 40 persen.

Menurutnya, karakteristik wilayah Kabupaten Sukabumi yang memiliki kawasan hutan, perkebunan, perbukitan, dan hamparan alang-alang membuat potensi kebakaran semakin tinggi ketika vegetasi mengering akibat musim kemarau.

Baca Juga :  Video: Karnaval Nusabrata Warnai Perayaan HUT ke-13 Kelurahan Jampangkulon Sukabumi

Di sisi lain, upaya penanganan kebakaran masih menghadapi sejumlah kendala. Petugas kerap kesulitan mencapai lokasi kebakaran karena banyak titik api berada di kawasan perbukitan, perkebunan, maupun area yang tidak dapat dilalui kendaraan pemadam.

Selain akses yang sulit, Damkar juga belum memiliki pompa gendong maupun tabung air portable yang dapat dibawa langsung ke lokasi kebakaran lahan. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman masih banyak mengandalkan cara manual.

Tantangan serupa juga dihadapi saat menangani kebakaran permukiman. Tidak sedikit lokasi kebakaran berada di gang sempit sehingga mobil pemadam tidak dapat mendekat dan petugas harus menarik selang hingga puluhan meter.

Keterbatasan juga terlihat dari jumlah pos pelayanan yang tersedia. Saat ini Damkar Kabupaten Sukabumi baru memiliki 12 posko untuk melayani 47 kecamatan dan 381 desa. Padahal, berdasarkan analisis internal, kebutuhan minimal mencapai 25 posko, bahkan idealnya terdapat satu pos pelayanan di setiap kecamatan agar mampu memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM) dengan waktu tanggap maksimal 15 menit.

Baca Juga :  Kebakaran Hanguskan Sanggar Seni Kuda Lumping di Ciracap Sukabumi, Gamelan dan Puluhan Kostum Musnah

Dari sisi armada, kebutuhan kendaraan operasional juga masih jauh dari ideal. Kabupaten Sukabumi diperkirakan membutuhkan sekitar 50 unit mobil pemadam, sementara saat ini baru tersedia 15 unit sehingga masih terdapat kekurangan sekitar 35 kendaraan.

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Erwin memastikan seluruh personel Damkar tetap berupaya memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat. Ia berharap pemerintah dapat terus memperkuat dukungan terhadap sarana, prasarana, armada, serta kesejahteraan petugas yang berada di garis depan penanggulangan kebakaran.

Seiring prediksi BMKG yang menyebut puncak musim kemarau masih akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan, Damkar mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dengan tidak membuka lahan menggunakan api, tidak membuang puntung rokok sembarangan, tidak meninggalkan api tanpa pengawasan, serta segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan titik api agar kebakaran tidak meluas.

Sumber Jubirtvnews.com:Β Ancaman Kebakaran Lahan Mengintai Sukabumi di Puncak Musim Kemarau

Tag:

Berita Video

Berita Terbaru

Pos-pos Terbaru