CORONGSUKABUMI.com – Perilaku toxic dalam lingkungan pertemanan masih sering dianggap hal biasa. Mulai dari candaan yang merendahkan hingga sikap manipulatif, banyak yang luput disadari karena sudah dianggap bagian dari dinamika pergaulan sehari-hari.
Toxic behavior sendiri merujuk pada sikap atau tindakan yang dapat menyakiti orang lain, baik secara emosional maupun psikologis. Perilaku ini tidak selalu berupa tindakan kasar secara langsung, tetapi juga bisa muncul dalam bentuk halus seperti komentar negatif yang berulang, sikap meremehkan, manipulasi, hingga kebiasaan mengontrol orang lain.
Dalam kehidupan sosial, tidak semua bentuk toxic behavior terlihat jelas. Beberapa di antaranya justru hadir dalam bentuk yang dianggap sepele, seperti gurauan yang menyinggung, membanding-bandingkan, tidak menghargai pendapat, atau hanya datang saat membutuhkan. Karena sering terjadi dalam suasana santai, perilaku ini kerap dianggap wajar.
Budaya βMaklumβ dalam Pertemanan
Di sisi lain, budaya βmaklumβ dalam pertemanan turut memperkuat normalisasi perilaku tersebut. Banyak orang memilih diam demi menjaga hubungan tetap baik. Apalagi jika hubungan pertemanan sudah terjalin lama, keinginan untuk menegur atau mengambil jarak sering kali tertahan karena rasa tidak enak.
Padahal, jika terus dibiarkan, toxic behavior dapat memberikan dampak yang tidak ringan. Korban bisa mengalami penurunan kepercayaan diri, merasa tidak dihargai, hingga mengalami tekanan secara emosional.
Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memengaruhi kesehatan mental dan cara seseorang membangun hubungan dengan orang lain.
Kesadaran menjadi kunci penting untuk memutus siklus tersebut. Mengenali tanda-tanda toxic behavior dan memahami bahwa tidak semua hal harus ditoleransi merupakan langkah awal yang perlu dilakukan. Pertemanan yang sehat seharusnya dibangun atas dasar saling menghargai, bukan saling menjatuhkan.
Karena itu, berani menetapkan batasan dan menyampaikan perasaan menjadi hal yang penting. Lingkungan pertemanan yang positif bukan hanya membuat seseorang merasa nyaman, tetapi juga membantu berkembang secara emosional dan sosial.
Sumber: berbagai sumber










