CORONGSUKABUMI.com – Segala sesuatu tentu berkaitan dengan faktor dan penyebab, termasuk munculnya suatu penyakit. Salah satunya adalah serangan panik dan serangan kecemasan yang kerap dialami berbagai kalangan.
Serangan panik dan serangan kecemasan merupakan gangguan mental yang dapat dipicu oleh berbagai faktor, bahkan beberapa di antaranya sering tidak disadari.
Merangkum berbagai sumber, berikut penyebab dan faktor risiko seseorang mengalami serangan panik maupun serangan kecemasan.
Penyebab Serangan Panik dan Serangan Kecemasan
Serangan panik yang terjadi secara tiba-tiba umumnya tidak memiliki pemicu eksternal yang jelas. Sementara itu, serangan panik maupun kecemasan yang muncul dalam kondisi tertentu biasanya dipicu oleh beberapa hal berikut:
- Pekerjaan yang penuh tekanan
- Menyetir
- Situasi sosial
- Fobia, seperti agorafobia (takut ruang ramai atau terbuka), klaustrofobia (takut ruang sempit), dan akrofobia (takut ketinggian)
- Kenangan atau pengalaman traumatis
- Penyakit kronis, seperti penyakit jantung, diabetes, sindrom iritasi usus besar, atau asma
- Nyeri kronis
- Putus obat atau alkohol
- Konsumsi kafein
- Penggunaan obat-obatan dan suplemen tertentu
- Gangguan tiroid
Faktor Risiko Serangan Panik dan Serangan Kecemasan
Selain pemicu, terdapat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami serangan panik maupun kecemasan, di antaranya:
- Pernah mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis, baik saat anak-anak maupun dewasa
- Mengalami peristiwa hidup yang berat, seperti kehilangan orang terdekat atau perceraian
- Mengalami stres dan kekhawatiran berkepanjangan, seperti masalah pekerjaan, konflik keluarga, atau kesulitan keuangan
- Hidup dengan penyakit kronis atau penyakit yang mengancam jiwa
- Memiliki kepribadian yang cenderung mudah cemas
- Memiliki gangguan kesehatan mental lain, seperti depresi
- Memiliki anggota keluarga dengan riwayat gangguan kecemasan atau serangan panik
- Penggunaan narkoba atau konsumsi alkohol
Orang yang mengalami kecemasan memang memiliki risiko lebih tinggi mengalami serangan panik. Meski begitu, memiliki gangguan kecemasan tidak selalu berarti seseorang pasti akan mengalami serangan panik.
Sumber: berbagai sumber










