Beranda / Lifestyle / Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Ganggu Kualitas Udara, Kenali Risiko bagi Kesehatan

Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Ganggu Kualitas Udara, Kenali Risiko bagi Kesehatan

Traktir Kopi

CORONGSUKABUMI.com – Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian masyarakat di sejumlah wilayah setelah erupsi yang berlangsung sejak Jumat (4/9/2026). Abu vulkanik terbawa angin hingga mencapai wilayah Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat, termasuk Sukabumi.

Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga perlu diwaspadai dari sisi kesehatan. Pemerintah mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika paparan abu meningkat serta menggunakan perlindungan yang sesuai jika harus keluar rumah.

Melansir dari Kementerian Kesehatan, abu vulkanik dapat menyebabkan gangguan pada saluran pernapasan, mata dan kulit. Dalam kondisi tertentu, partikel halus seperti PM2,5 juga dapat masuk lebih dalam ke paru-paru dan memicu peradangan serta gangguan kardiopulmonal.

1. Mengganggu Saluran Pernapasan

Dampak yang paling sering muncul akibat paparan abu vulkanik adalah gangguan pada saluran pernapasan.

Abu yang terhirup dapat menimbulkan batuk, tenggorokan terasa gatal atau kering, hidung teriritasi hingga sesak napas. Paparan dalam jumlah tinggi juga perlu diwaspadai karena partikel berukuran sangat kecil dapat masuk lebih jauh ke dalam sistem pernapasan.

Baca Juga :  Mau Bikin Lomba 17 Agustus Makin Meriah? Ini Ide Hadiah yang Bisa Dipilih

Kemenkes menyebut adanya kecenderungan peningkatan kasus ISPA di sejumlah wilayah terdampak erupsi Anak Krakatau, termasuk di Jawa Barat.

2. Bisa Menyebabkan Iritasi Mata

Abu vulkanik memiliki partikel yang dapat mengiritasi permukaan mata. Mata bisa terasa perih, merah, berair atau seperti kemasukan benda asing.

Jika abu masuk ke mata, masyarakat dianjurkan tidak menguceknya. Bersihkan mata menggunakan air dan apabila keluhan berlanjut, segera periksakan ke fasilitas kesehatan.

3. Menimbulkan Iritasi pada Kulit

Selain saluran pernapasan dan mata, abu vulkanik juga dapat mengiritasi kulit, terutama jika seseorang cukup lama berada di lingkungan yang dipenuhi abu.

Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan sebaiknya mengenakan pakaian tertutup. Setelah kembali ke rumah, tubuh dan pakaian juga perlu dibersihkan untuk mengurangi paparan abu yang menempel.

Baca Juga :  Beda Kebijakan Hadapi Abu Vulkanik: Kota Sukabumi Liburkan Tatap Muka, Kabupaten Minta Siswa Tetap Sekolah Pakai Masker

4. Kelompok Rentan Perlu Lebih Waspada

Tidak semua orang memiliki tingkat kerentanan yang sama terhadap paparan abu vulkanik.

Anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, penderita asma, penyakit paru kronis serta penyakit kardiovaskular termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih.

Bagi kelompok tersebut, mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara memburuk menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko.

5. Gunakan Masker yang Tepat

Ketika abu vulkanik mulai terlihat atau kualitas udara memburuk, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Jika harus keluar, Kemenkes merekomendasikan penggunaan masker seperti N95, KN95, KF94 atau FFP2. Masker medis dapat menjadi perlindungan sementara apabila jenis tersebut tidak tersedia.

Penggunaan kacamata pelindung atau goggles juga dianjurkan untuk mengurangi risiko abu masuk ke mata.

6. Tutup Pintu dan Jendela

Ketika sebaran abu sedang tinggi, masyarakat sebaiknya berada di dalam ruangan dan menutup pintu serta jendela.

Aktivitas yang dapat membuat abu kembali beterbangan, seperti menyapu abu dalam kondisi kering, juga sebaiknya dihindari. Abu yang sudah masuk ke lingkungan rumah perlu dibersihkan dengan cara yang tidak membuat partikelnya kembali melayang ke udara.

Baca Juga :  Tak Hanya Penipuan, Ini Jenis-Jenis Kejahatan Siber yang Sering Terjadi

7. Segera Periksa Jika Mengalami Keluhan

Masyarakat perlu memperhatikan kondisi tubuh setelah terpapar abu vulkanik.

Batuk ringan atau iritasi dapat terjadi, tetapi keluhan seperti sesak napas, nyeri dada, sulit bernapas, iritasi mata yang berat atau kondisi yang semakin memburuk sebaiknya tidak diabaikan.

Kemenkes mengimbau masyarakat segera mencari pertolongan ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami keluhan kesehatan setelah terpapar abu vulkanik.

Abu Vulkanik Anak Krakatau Capai Sukabumi

Sebaran abu Gunung Anak Krakatau saat ini menjadi perhatian di Sukabumi. Pemerintah Kota Sukabumi bahkan pada Senin (7/9/2026) kemarin menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh bagi siswa PAUD, TK, SD dan SMP sebagai salah satu langkah mengurangi paparan abu vulkanik.

sumber: berbagai sumber

Traktir Kopi
Tag:

Berita Video

Berita Terbaru

Pos-pos Terbaru