Beranda / News / Film Dokumenter “Pesta Babi” Ramai Dibicarakan, Bahas Apa?

Film Dokumenter “Pesta Babi” Ramai Dibicarakan, Bahas Apa?

☕ Traktir Kopi

CORONGSUKABUMI.com – Film dokumenter berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita belakangan ramai menjadi perbincangan publik di media sosial. Film dokumenter karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale itu viral setelah sejumlah agenda nonton bareng (nobar) di beberapa daerah dilaporkan dibubarkan.

Film tersebut mengangkat isu masyarakat adat Papua Selatan yang disebut kehilangan ruang hidup akibat proyek perkebunan dan pembangunan berskala besar. Tema yang diangkat dinilai sensitif sehingga memicu pro dan kontra di tengah masyarakat.

Baca Juga :  Mahasiswi Kristen Minta Beasiswa S-2 di Kampus Muhammadiyah, Jawaban Rektor Bikin Merinding!

Angkat Konflik Lahan dan Kehidupan Masyarakat Adat

Dalam film berdurasi sekitar 95 menit itu, penonton diperlihatkan kondisi masyarakat adat di wilayah Merauke, Boven Digoel, hingga Mappi, Papua Selatan. Dokumenter tersebut menyoroti pembukaan hutan adat untuk proyek pangan dan industri, serta dampaknya terhadap masyarakat lokal.

Judul “Pesta Babi” sendiri disebut merujuk pada tradisi budaya masyarakat Muyu di Papua, di mana babi menjadi simbol penting dalam kehidupan sosial dan adat.

Film ini diproduksi melalui kolaborasi sejumlah organisasi dan komunitas dokumenter independen, termasuk WatchDoc.

Baca Juga :  Sambil Cicipi Madu, Siswa Paud Tunas Bahari Diedukasi sambil Bermain di Taman Wisata Lebah ‘Atas Laut’ Cisolok

Viral Setelah Nobar Dibubarkan

Perbincangan mengenai film tersebut semakin meluas setelah beberapa kegiatan nobar dilaporkan dihentikan aparat maupun pihak kampus.

Pembubaran itu kemudian memicu perdebatan soal kebebasan berekspresi, ruang diskusi publik, hingga aturan penayangan film dokumenter di ruang terbuka. Sebagian pihak menilai penghentian acara dilakukan karena persoalan izin dan klasifikasi penayangan.

Di sisi lain, sejumlah organisasi masyarakat sipil mengecam tindakan pembubaran tersebut karena dianggap membatasi hak publik untuk memperoleh informasi dan menikmati karya seni.

Baca Juga :  Jadwal Sidang Isbat Penentuan Awal Ramadan 2026

Ramai Dibahas Warganet

Kontroversi film ini juga ramai dibahas di media sosial dan forum internet. Banyak warganet mengaku penasaran dengan isi film setelah isu pembubaran nobar mencuat ke publik. Bahkan, kata kunci terkait film tersebut sempat ramai dicari di internet.

Sebagian penonton menilai dokumenter itu membuka sudut pandang baru mengenai kondisi masyarakat adat di Papua. Namun, ada pula yang mempertanyakan objektivitas film karena dinilai membawa isu politik dan lingkungan yang sensitif.

sumber: berbagai sumber

☕ Traktir Kopi
Tag:

Berita Video

Berita Terbaru

Pos-pos Terbaru