CORONGSUKABUMI.com – Pendangkalan kolam dermaga di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, semakin menghambat aktivitas nelayan. Saat air surut, kapal bahkan harus ditarik atau didorong agar bisa keluar dari kolam menuju laut.
Kondisi tersebut terjadi akibat sedimentasi yang telah berlangsung selama beberapa tahun. Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Sukabumi Dede Ola mengatakan pendangkalan mulai terasa sekitar enam tahun lalu dan semakin signifikan dalam tiga tahun terakhir.
βKalau sedimentasinya mulai terasa mungkin lebih dari tiga tahun, bisa dari enam tahun yang lalu. Cuma signifikannya tiga tahun ini sudah benar-benar kelihatan pendangkalan,β kata Dede Ola, Sabtu (5/9/2026).
Menurut Dede, kondisi tersebut semestinya sudah mendapatkan respons sejak mulai mengganggu fungsi dermaga. Sebab, fasilitas tersebut merupakan infrastruktur vital yang digunakan nelayan untuk keluar-masuk kapal sekaligus membawa hasil tangkapan.
βHarusnya kan cepat tanggap. Setahun kelihatan tidak berfungsi mestinya ada respons, ada tindakan,β tegasnya.
Pengerukan Terganjal Efisiensi
Dede juga mempertanyakan kondisi dermaga dari sisi kewajiban nelayan. Menurutnya, nelayan tetap menjalankan kewajiban berupa retribusi maupun Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Namun, fasilitas yang menunjang aktivitas mereka justru mengalami pendangkalan hingga menghambat kegiatan melaut.
βKan janjinya 30 persen kembali ke daerah. Dulu infrastruktur daerah dapat lewat DAK atau APBN-P. Sekarang giliran dipertanyakan, jawabannya malah efisiensi,β ujarnya.
Menurut Dede, persoalan pengerukan telah beberapa kali disampaikan. HNSI bahkan membawa persoalan tersebut dalam audiensi dengan Komisi IV DPR RI beberapa waktu lalu.
Saat itu, pengerukan disebut sempat dijanjikan masuk dalam anggaran tahun berjalan. Namun hingga kini pekerjaan tersebut belum terlihat.
Kondisi itu membuat nelayan khawatir pengerukan kembali ditunda hingga tahun berikutnya.
Di lapangan, dampak pendangkalan semakin terasa ketika air surut. Kapal tidak dapat dengan mudah keluar dari kolam dermaga sehingga nelayan harus mencari cara dengan menarik atau mendorong kapal menuju laut.
Situasi tersebut juga memiliki risiko terhadap kapal. Kapal yang ditarik maupun didorong melewati dasar kolam yang dangkal berpotensi mengalami kerusakan pada bagian lambung maupun baling-baling.
Kuota Solar Nelayan Ikut Dipangkas
Persoalan nelayan Palabuhanratu tidak hanya berkaitan dengan pendangkalan dermaga. Di tengah kondisi ikan yang disebut sedang bagus, nelayan juga menghadapi persoalan ketersediaan solar bersubsidi.
Dede mengungkapkan kuota solar nelayan mengalami pengurangan dari 320 kiloliter (KL) menjadi 240 KL atau berkurang sekitar 80 KL.
βKebutuhan nelayan ini mendesak skala prioritas, termasuk kelangkaan solar akibat pengurangan kuota. Dari 320 KL solar dikurangi jadi 240 KL. Ada pemotongan 80 KL,β bebernya.
HNSI, kata Dede, sempat membawa persoalan tersebut ke DPR RI. Namun, kuota solar justru kembali mengalami pengurangan.
βSetelah audiensi malah dikurangi lagi jadi 230 KL. Dulu saja dengan kuota normal masih kekurangan, apalagi dikurangi pas musim ikan begini, dobel kekurangannya,β ujarnya.
Pemkab Siap Koordinasikan Pengerukan
Wakil Bupati Sukabumi Andreas mengakui pengelolaan dan pengerukan kawasan PPN Palabuhanratu berada di bawah kewenangan pemerintah pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Meski demikian, Pemkab Sukabumi menyatakan akan menjembatani persoalan tersebut dan berkoordinasi dengan kementerian terkait agar normalisasi alur kapal dapat segera dilakukan.
βNanti coba kita koordinasikan berkaitan dengan akibat dari pendangkalan untuk normalisasi. Insyaallah nanti dikoordinasikan, karena kan memang itu kalau wilayah dermaga bukan kewenangan kita,β kata Andreas.
Sumber Jubirtvnews.com:Β Dermaga Palabuhanratu Dangkal akibat Sedimentasi, Kapal Nelayan Terpaksa Didorong Saat Air Surut










